Pulang

Mari terbang setinggi-tingginya
Kepakkan sayap kita selebar-lebarnya
Bergerak sekuat-kuatnya
Hijrah ke mana kita ingini
Ke barat, timur, utara, atau selatan
Bahkan kita tak terbatas arah
Kuikhlaskan semuanya
Mengalir bersama air kehidupan
Sejuk, tenang, dan teduh
Menyapa semesta dengan senyuman bahagia
Terkadang  jatuh dalam kelelahan
Terkadang kalah dengan kemampuan
Tapi itu bukan alasan
Bangkit dan berjuang
Dunia adalah perhiasan
Bersama Sang Hidup dan Penyayang
Aku akan pulang
Innalillahi wainnaillaihi roji’un

Advertisements

BLAST-BEST

Data from Central Bureau Statistics of Indonesia recorded that at 2011, 90 million children are currently 0-19 years old. So, at 2045 they are 34-53 years old. The productive age population of Indonesia reaches its peak. Indonesia will be referred to as “Indonesia Emas 2045”. The children will become our leader.

In fact, nowadays Indonesian children’s condition is very worrying. Semai 2045 movement says that they are BLAST. BLAST means Bored, Lonely, Affraid, Angry, and Tired. Yayasan Kita Buah Hati (YKBH) at 2014 recorded that, 93 of 100 student in elementary school have accessed pornography, 135 Indonesian children became victims of violence each month, sexual abuse occured in 19 provinces, Incest case occured in 23 provinces.

Gold Generation, Indonesia Emas 2045 that would serve proper leader for our country. How it could be? The children are BLAST, dear.

BLAST, I felt it too when I was in elementary school age. I was such a smart student. I was the first rank in the first grade until six grade, constantly. I selected to be classmate leader in my elementary and madrasah. I asked to represent the school in mathematic, science, and social competitions. I was such a good santri in my madrasah, too. Sadly, my peers in madrasah (my village) bullied me physical and mental. They hit me, attack my spine with her leg when I rejected to cheating in the exam, they hide my cycle, and others. They also tease me that “I am smart because of DUKUN”.

Then, I tend to enjoyed myself. I created my own activities such as: made a craft, wrote, watched the sky, prayed, and sometimes cried. That’s my actions for got my own happiness at that time.

I won’t children lonely facing this cruel and challanging conditions. They really need soulmate like I absolutely needed partner at that time (also, now). Growing happiness habits to the children is really urgent movement. We need to accompany the children take actions to enjoy “what the way they are”, have fun activities, how to loving and be loved, how to caring and sharing, collaboration, and others. Then, the children could be BEST. BEST means Behave, Emphatic, Smart, and Tough.

BLAST TO BE BEST
BLAST TO BE BEST

“Happiness is not something ready made. It comes from our own actions” that’s Dalai Lama said. Ladies and gantleman, Let’s action, action, and action! Change BLAST to be BEST, right now! Because “the children” that I told to you are us and our next generation.

With love,
Dwi Rahmah Hidayati

Negeri Bahagia

Acara di Negeri Bahagia

Selamat datang di negeri bahagia 🙂

Sebuah “diksi” dari perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Melewati bukit kesedihan dan kebahagiaan, menyusuri sungai keraguan dan keyakinan, mendaki gunung harapan dan kekecewaan. Dua puluh tiga tahun, dan akhirnya aku semakin dekat kepadanya. Petualangan ke Negeri Bahagia akan dimulai dari sebuah sudut teras rumah, di desa kecil bernama Kerjen, kecamatan Srengat, kabupaten Blitar. InsyaAllah..

Dengan penuh harapan dan suka cita, kuajak kalian anak-anakku, teman, dan keluargaku.. untuk ikut mengukir senyum, bahagia, dan makna di Negeri Bahagia kita (masing-masing). Terima dan sambutlah acara pertama kami yang bertema, “Menumbuhkan Kebiasaan Anak Bahagia”.

Bentuk Kegiatan ini ada 2 yaitu:

  1. Ngabuburit ke Negeri Bahagia 
    “Menumbuhkan 7 Kebiasaan Anak Bahagia di Bulan Ramadhan” melalui dongeng, menggambar, dan mewarna.
    Waktu: 15.30 – 17.00 WIB
    Juni 2017 (tanggal 11, 12, 16, 17, 18, 19, dan 23)
    Tempat: Teras Rumah Bapak Sadjijat RT 01 RW 01 Kecamatan Srengat
    Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia
    Poster Ngabuburit ke Negeri Bahagia 2017 Bag 1
  2. Kemenangan di Negeri Bahagia 
    Sebuah ajang gelar karya tentang “Kebiasaan Anak Bahagia”
    Waktu: 25-30 Juni 2017
    Tempat: Teras Rumah Bapak Sadjijat RT 01 RW 01 Kecamatan Srengat
    Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia
    Kemenangan di Negeri Bahagia

Mohon doa restu dan partisipasinya. Semoga segala sesuatu yang sedang kami usahakan mampu memberi manfaat dan “membahagiakan” sekitar. Aamiiin {()}

Salam Bahagia,
Dwi Rahmah Hidayati

Tanda dalam Emosi

Tuhan aku ingin tahu, mengapa aku begitu emosional? Mengapa aku begitu mudah terharu, kecewa, marah dan menangis? Meski tak ingin dan kutahan sedemikian rupa.

Tuhan aku ingin mengerti, mengapa aku begitu mudah mengingat hal kecil yang bahkan orang lain tidak memikirkannya sama sekali? Meski aku berusaha tidak memusatkan pada hati akan seperti apa perhatian ini ditanggapi.

Tuhan aku ingin memahami, mengapa Engkau biarkan hatiku “dipermainkan” oleh banyak orang? Meski aku sudah berhati-hati dan membangun benteng diri.

Tuhan aku ingin ikhlas, sabar, dan memaafkan. Tapi, mengapa ini tak semudah diucapkan? Meski sudah berulang kali merasakan pengalaman.

Di mana dan kepada siapa aku bisa mempercayakan pikiran, perasaan, dan dedikasiku, Tuhan?

Sekali lagi, Tuhan mengapa aku begitu peduli pada emosi?

Semenjak malam sebelumnya, tiba-tiba saja dadaku sesak. Meski aku sudah sholat, mengaji, bertasbih, dan meneguk banyak air putih. Kucoba untuk beraktivitas dengan membuat kerajinan tangan, tapi tetap saja semakin menyesakkan. Aku merasa ada hal menyedihkan akan terjadi. Hingga akhirnya aku dipertemukan Allah dengan ayatnya yang berbunyi,Sarang semut - lapang dadaAku merasa, aku tidak perlu merasakan sesak ini. Aku harus lapang dada dan segera tersenyum bahagia tanpa alasan. Tapi tetap saja, aku terus bertanya akan ada apa. Aku yakin, keesokan harinya lah aku akan tahu jawabannya.

…dan hari itu pun datang. Benar saja, hatiku dibuat berguncang berkali-berkali oleh Tuhan dalam sepersekian detik-menit. Luluh lantah oleh suatu hal… Rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya dan memeluk kedua orangtuaku (terutama ibuku). Mustahil… aku sedang di taman kota dengan keramaian yang luar biasa. Aku benar-benar kembali “asing” dengan dunia ini, Tuhan. Aku sungguh tidak punya siapa-siapa, kecuali Sesuatu Yang Tak Bisa Kulihat. Engkau dimana, Tuhan? Aku rindu Kau peluk dan sentuh hatiku dengan lembut. Bagaimana aku mengobati ini semua? Aku harus bagaimana?
2017 - Persahabatan Dwi Rahmah dan Mbak Dian di B29

Nyatanya, mau apapun juga, kita harus paham bahwa kasih Tuhan “menjelma” dalam berbagai rupa dan perantara. Bisa lewat teman kita, orangtua kita, atau alam sekitar. Sambutlah mereka, syukurilah.

Begitulah Tuhan memberi tanda,

Percayalah pada apa yang engkau rasakan,

Jangan pernah mengingkari perasaan,

Begitu ia datang, hadapilah

Tuhan ingin kita lebih kuat dari sebelumnya

Kita boleh menangis seperlunya

Lalu, menulislah…

Hati kita akan menemukan sesuatu yang indah

Yakinlah…

Terima kasih, kecewa dan kesakitan… lewat engkau aku menjadi lebih kuat dan menghargai perasaan.

Pare, 24 April 2017
12.00 WIB

The Warm and Cozy Ngadas Village

Ngadas Village Photo by Dwi Rahmah Hidayati
Malang is one of the most memorial place for me. It is well known as several tourism places with beautiful view. According to my opinion, Malang is my learning center. There is a small village in Malang which located in more than 2.100 meters above the sea level (mdpl). The village was known as Ngadas Village. Talking about Ngadas Village, it is the last village that you can find before turning to Bromo Mountain. Also, this village includes several villages that become enclave village of Bromo Tengger Semeru National Park (TN BTS). Moreover, though this village you can enjoy the nature weather of cold and cozy. The local people who dominant lived in Ngadas Village is Suku Tengger. They are so friendly and have high tolerance proved by several places of worship such as the mosque, wihara, and pura. Ngadas Village is my best place that I have ever visited. In the beginning of the year of 2014 I stayed for researching and social projects with my friends. For more than two months lived there, it made me getting the new family. They are Siti Mutmainah as the student of secondary school in Ngadas, Rizki as the Kindergarten’s teacher, Mr. Kartono as the well known person in the village, Mr. Mujianto as the head of the village, Mr. Suyak as food vendor and others. So, if you want to spend time in the quiet place with the fresh air, far from the crawded city, I suggest you to visit Ngadas Village. Another options, for some of people that want to enjoy the Semeru Mountain view, this place were recommended.

Written by: Dwi Rahmah Hidayati
Checked by: Miss Eva Musifa

Pare
March 13, 2017

Menyambut (Janji) Baru

 

berbagi-cerita-untuk-anak-indonesia-2Menikmati minggu-minggu terakhir di kota dingin penuh perjuangan, cinta, dan impian, Kota Malang. Menikmati lezatnya mie dan manisnya Es Woles (biar hidup ada “woles” nya, ndak lari terus :p). Hohoho… Tentunya, ditemani partner setia: 1 laptop dan 1 note of life. Romantis, kok.. soalnya sambil ngelihatin cinta pada pandangan pertama ketemu dengan anak-anak itu (sambil nunjuk foto di atas). Mereka membelajarkanku hidup penuh syukur dan bersemangat dalam semua “keterbatasan”. Stay, be you and respect for the environment!.

Malang, 24 Februari 2017 pukul 21.14 WIB
Meja pojok no. 4, teras Mie Jogging Jl. Soekarno Hatta

 

 

 

 

Hati-Hati Berbagi

anak-usia-paud
Yo uwis, tak maem e dheWE (0,0)>

Aku menemukan 1 sisi kehidupan yang lain. Ternyata, bahagia itu bukan “hanya” soal berbagi-memberi. Namun, berhati-hati dalam berbagi. Nyatanya, tidak setiap manusia di bumi ini yang senang dibagi dan berbagi. Tidak setiap manusia di dunia ini, senang diberi dan memberi. Kalau pun kita ingin berbagi, harus sangat kita perhatikan cara kita berbagi. Bahkan, ada kondisi di mana, jangan pernah membagi, jika tidak diminta. Sungguh, manusia itu makhluk yang “rumit”, serumit hubungan dengan Si Do’i. Hahaha 😀

Malang, 11 Januari 2017

MENDAKI GUNUNG

Salah satu agendaku di tahun 2017. Mencapai puncak, melihat dan memahami segala sesuatu dari ketinggian, untuk kemudian melihat dengan jeli dari titik terendah. Merancang kembali semua arah dan tujuan. Aku punya hak atas hidupku sendiri. Aku akan berjalan ke mana aku ingin berjalan, termasuk mendaki gunung di Finlandia atau Amerika. Hehee.. ada gak ya?