The Warm and Cozy Ngadas Village

Ngadas Village Photo by Dwi Rahmah Hidayati
Malang is one of the most memorial place for me. It is well known as several tourism places with beautiful view. According to my opinion, Malang is my learning center. There is a small village in Malang which located in more than 2.100 meters above the sea level (mdpl). The village was known as Ngadas Village. Talking about Ngadas Village, it is the last village that you can find before turning to Bromo Mountain. Also, this village includes several villages that become enclave village of Bromo Tengger Semeru National Park (TN BTS). Moreover, though this village you can enjoy the nature weather of cold and cozy. The local people who dominant lived in Ngadas Village is Suku Tengger. They are so friendly and have high tolerance proved by several places of worship such as the mosque, wihara, and pura. Ngadas Village is my best place that I have ever visited. In the beginning of the year of 2014 I stayed for researching and social projects with my friends. For more than two months lived there, it made me getting the new family. They are Siti Mutmainah as the student of secondary school in Ngadas, Rizki as the Kindergarten’s teacher, Mr. Kartono as the well known person in the village, Mr. Mujianto as the head of the village, Mr. Suyak as food vendor and others. So, if you want to spend time in the quiet place with the fresh air, far from the crawded city, I suggest you to visit Ngadas Village. Another options, for some of people that want to enjoy the Semeru Mountain view, this place were recommended.

Written by: Dwi Rahmah Hidayati
Checked by: Miss Eva Musifa

Pare
March 13, 2017

Advertisements

Dongeng Peduli Lingkungan

mendongeng-ecolife-skills-learning-program

Salah satu metode menstimulus kepedulian lingkungan pada anak adalah mendongeng. Kita perlu memilih dongeng yang berkaitan dengan nilai kepedulian lingkungan. Cirinya antara lain:
1. menggunakan tokoh binatang atau tumbuhan yang ada di sekitar anak, bisa juga tokoh manusia (sesuaikan dengan usia anak);
2. cerita mengambil setting tempat di alam atau lingkungan sekitar tempat tinggal anak, misalnya di hutan, sungai, sawah, atau kampung tempat tinggal anak;
3. memuat nilai melindungi, merawat, atau mengatasi suatu permasalahan yang terjadi di suatu lingkungan. Tidak masalah jika dongeng memuat berbagai nilai, misalnya ada nilai penghargaan, toleransi, dan sebagainya.

Ijinkan anak-anak memahami sesuai kemampuannya masing-masing. Kita tidak perlu memberikan kesimpulan nilai dan hikmah pada akhir cerita yang kita sampaikan. Cukup tanyakan pada mereka, apa yang bisa mereka tangkap dari cerita yang kita sampaikan. Jika jawaban mereka sesuai dengan harapan kita, berarti kita telah berhasil menyampaikan “pesan” dalam cerita dengan baik dan efektif. Jika belum, pancing dan terus arahkan, tapi bukan “memberitahu” 🙂

Biar gak penasaran, berikut salah satu contoh cerita sebagai bahan mendongeng “Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak”.

KEBAKARAN DI HUTAN

Oleh: Henny Trailes

Di suatu hutan bernama “Hutan Bahagia”, terjadi kebakaran besar. Semua binatang melarikan diri bersama-sama menuju sisi danau yang tidak terbakar, dan mereka memandangi api yang berkobar-kobar. Seekor burung kecil, melihat apa yang terjadi, kemudian mengambil setetes air dengan paruhnya yang kecil, dan menjatuhkannya di atas bara api. Burung itu kembali lagi dan mengambil satu lagi tetes air untuk ia jatuhkan di atas bara api. Burung itu terus terbang bolak balik dengan rajin.

Semua binatang yang lain hanya memandangi burung itu dan berkata: “Apa yang ia pikir bisa ia lakukan dengan satu tetes air?”. Akhirnya, mereka bertanya kepada burung itu “Katakan pada kami, burung kecil, apakah menurutmu kamu bisa memadamkan api itu hanya dengan tetes-tetes air?”

Burung kecil itu menjawab: “Aku harus melakukan apa yang bisa aku lakukan”. Baru selesai ia bicara, lewatlah malaikat yang melihat burung kecil itu. Malaikat menjatuhkan hujan deras di atas hutan yang terbakar itu. Akhirnya api yang berkobar bisa padam. Hutan kembali bahagia 🙂

–***–

mendongeng-peduli-lingkungan

Nilai utama yang terkandung dalam cerita tersebut adalah “penghargaan”.  Namun, kita juga memahami bahwa ada nilai kepedulian, usaha, dan pertolongan Tuhan. Ada banyak bagian yang bisa kita eksplor dan kembangkan. Misalnya pada bagian “semua binatang di hutan” bisa ditanyakan ke anak-anak yang kita dongengkan, “kira-kira di hutan itu ada binatang apa saja ya?”. Bebaskan anak-anak menjawab, masukkan binatang yang disebutkan anak ke dalam cerita, jadikan beberapa binatang yang disebutkan tersebut sebagai tokoh dalam cerita sesuai kebutuhan.
mengembangkan-gaya-mendongeng

Pada bagian dialog, bisa diperbanyak sesuai jumlah tokoh. Bagian malaikat yang melihat usaha burung kecil juga bisa dieksplor seperti “siapa hayo malaikat yang tugasnya menurunkan hujan?”, “Siapa yang memberi tugas malaikat itu untuk menurunkan hujan?”. Proses interkasi dengan anak-anak sangat penting untuk membangun pola pikir anak dan menghangatkan suasana.

tawamu-tawaku

Selamat mendongeng 🙂

 

Setiap Hari Petualangan

Di banyak tempat, situs, medsos, dan kaos-kaos, aku sering menemukan kalimat yang mengisyaratkan tentang betapa sedang headline nya istilah “adventure” atau “travelling”. Kali ini kita fokus ke istilah “adventure”. Ada kalimat “my life my adventure”, “my skripsi my adventure”, “my job my adventure”. Ya, rasanya kata “adventure” memanglah memberikan makna yang mendalam. Bukan hanya sebuah deretan huruf. Bagiku pribadi, kehidupan ini, skripsi, belajar, berkarya, bekerja, beribadah, dan semua laku kehidupan tidak terpisah dan semua membuatku berpetualang. Petualangan itu terjadi setiap hari. So, everyday is my adventure.

Melihat fenomena sekarang, animo melakukan “adventure” yang diidentikkan dengan pergi ke alam, naik gunung, ke pantai, hutan, menyusur sungai, dan sebagainya sangatlah tinggi. Nampaknya semua saling berpacu untuk mengakrabkan diri dengan alam. Dari pengamatan pribadiku, aku menyimpulkan 4 kemungkinan alasan utama seseorang kini senang melakukan “adventure” atau berpetualang ke alam.

Pertama, karena ia memang secara alami menyukai alam, baik sejak kecil maupun ketika usia dewasa. Mengapa seseorang menyukai alam, karena memang bisa jadi ia adalah seorang naturalis, fitrah manusia yang perlu menyatu dengan alam (hablu minnal ‘alm), atau faktor lainnya. Sehingga ia memang akan terus mendekatkan dirinya dengan alam.

Ke dua, karena kesempatan mempelajari alam semesta sewaktu ia masih berusia sekolah dasar terlewatkan dalam tahap tumbuh kembangnya. Di usia sekolah dasar, anak-anak memiliki kebutuhan perkembangan utama untuk mempelajari alam semesta. Di usia itu anak-anak sangat bergairah untuk mengenali cara kerja dunia. Mengamati bagaimana burung terbang di angkasa, awan yang bergerak, tulang dinosaurus, bunga yang mekar, berudu yang berubah menjadi katak, dan semua yang terjadi di alam ini. Jika ia melewatkan moment tersebut, ia akan berusaha mencari tangga-tangga dalam tahapan kehidupan yang telah ia lompati, untuk kembali menapaki tangga tersebut. Akhirnya ia baru menyadari betapa perlunya ia mempelajari alam semesta dengan mendekatkan diri pada alam ketika sudah dewasa.

Ke tiga, karena seseorang ingin memperbaiki dirinya, membersihkan diri, atau melupakan ingatan akan hal-hal yang tidak ia sukai, mungkin menyakitkan, bahkan hal yang membuatnya kehilangan jati diri-harga diri di masa lalu. Akhirnya ia berusaha mencari kembali jati dirinya, harga dirinya, lewat perjalanan-perjalanan, petualangan, yang mendekatkan dirinya dengan alam. Sebab ketika kita dekat dengan alam, hal ini juga dapat mendekatkan kita dengan Tuhan. Ketika kita dekat dengan Tuhan, kita pun berarti telah melewati tahap mengenali dan dekat dengan sejatinya diri.

Ke empat, karena seseorang mengikuti trend. Adventure, menyatu dengan alam, travelling bisa ke mana-mana, mengunjungi tempat-tempat indah, nampaknya memberikan ruang tersendiri bagi seseorang untuk terlihat keren. Hal ini banyak disukai orang pada umumnya.

Di kemungkinan alasan yang manakah petualanganmu? Atau belum terangkum olehku? Aku sangat terbuka untuk menambahkannya jika itu berbeda dan menunjukkan alasan yang kuat. Bisa jadi, kita pernah mengalami semua tipe kemungkinan alasan tersebut, bisa jadi kita hanya mengalami 1 atau 2 tipe, bisa jadi tidak sama sekali. Hehehe

Eco Exam

Alhamdulillah.. 20 Oktober 2016 adalah hari bersejarah dalam hidup. Aku sangat menikmati tiap detail rasa dan peristiwanya. Menggebunya semangat untuk “peduli” pada lingkungan mengantarkan aku memodifikasi, mengembangkan, dan mengimplementasikan sebuah model pembelajaran yang memperhatikan lingkungan. Tentu saja hal tersebut tidak terlepas dari bantuan tim di LKSA HARUM dan kakak-kakak pendamping Sanggar Flamboyan Muharto Kota Malang, yaitu Kak Isti dan Kak Ana. Model tersebut bernama Eco Life Skills.

Variasi kegiatan pembelajaran Ecolife Skills.png
Model pembelajaran Eco Life Skills adalah program pembelajaran untuk menemani anak mempelajari kecakapan hidup yang berpusat pada aspek mengenal diri dengan tetap memperhatikan lingkungan (respect for the environment). Jadi, muara akhirnya adalah setiap anak bisa mengenali potensi terkuat dalam dirinya, dan melakukan aksi ramah lingkungan sesuai bidangnya. Misalnya, seorang anak yang memiliki potensi cerdas bahasa (linguistik) dan interpersonal, dia akhirnya memiliki passion untuk mendongeng. Maka, bentuk Eco Life Skills nya bisa dengan memasukkan nilai-nilai kepedulian lingkungan ke dalam aksi dongengnya. Contoh lain, seorang anak memiliki kecenderungan cerdas visual, intrapersonal, dan linguistik. Dia menemukan passionnya sebagai seorang illustrator buku dongeng. Oleh karena itu, bentuk Eco Life Skills nya adalah membuat buku-buku dongeng dengan tema lingkungan.

Ada lagi nih, misalnya seorang anak yang memiliki kecenderungan cerdas naturalis, bahasa, suka menulis, dan kinestetik. Dia menemukan kegemaran menjadi seorang jurnalis cilik. Maka bentuk Eco Life Skills nya bisa dengan menjadi jurnalis yang mengangkat isu-isu lingkungan-alam. Gimana ya kalau seorang guru (guru sekolah, guru ngaji, dosen)? Bisa banget. Beliau bisa menggunakan lingkungan sebagai salah satu media pembelajaran, atau membuat media pembelajaran sendiri yang ramah lingkungan. Beliau dapat me”masiv”kan gerakan “paper less” kepada siswa (SD kelas 6, SMP, SMA)-mahasiswanya.

Sayang 1000 sayang, yang nulis Eco Life Skills ini (masih) mahasiswa yang belum benar-benar “menggeluti” passionnya. Namun, jangan khawatir! Kita tetap bisa menunjukkan perilaku “peduli” lingkungan ala mahasiswa. Kali ini yang aku share adalah edisi ujian skripsi yaa.. aku memberinya nama “Eco Exam”.

Hal yang bisa kita lakukan antara lain:

  1. Mencetak draft skripsi yang akan diuji dengan kertas bekas atau mencetak secara bolak-balik. Kalau boleh siih… tidak dicetak (hehehe), sehingga bisa cukup soft file.
  2. Berangkat ke kampus jalan kaki. Itu kalau kos kita deket sama kampus lhooo (Jangan protes dulu 😀 ). Bisa naik sepeda pancal kalau jarak kos ke kampus ”agak jauh”. Bisa naik angkutan umum kalau jarak kos ke kampus “sangat jauh”. Boleh naik motor pribadi kalau jarak kos ke kampus jauh dan tidak ada akses angkutan umum.
  3. Siapkan konsumsi untuk Dosen berupa “makanan khas” kota kampus kita berada. Kenapa? Agar bisa lebih “mengenali” kekhasan lokal dan ikut “melestarikan” potensi lokal.

    makanan-khas-malang-orem-orem-arema
    Pak Alex menyiapkan Orem-Orem di Kotak Makan (No Sterofoam)
  4. Gunakan tempat makan yang bisa digunakan kembali (reuse).
  5. Bawalah minuman pada botol pribadi (reuse) dari kos.
  6. Selamat Ujian dengan bahagia ya 🙂

Biasanya selesai ujian, begitu keluar ruangan kita akan disambut oleh teman-teman untuk memberi dukungan. Seringkali sudah seperti hal wajib, mereka membawakan banyak hadiah sebagai wujud sayang dan apresiasi. Nah, kalau teman kita “peka” dengan passion dan kepedulian lingkungan kita, mereka pasti akan memberikan hadiah yang “ramah lingkungan”. Aku sangat bersyukur teman-temanku sangat peka dan baik. Tak kusangka mereka memberiku hadiah yang “out of the box”. Temanku yang hari itu “membagi waktunya” untukku ada Desy, Mbak Anzila dan Via. Alhamdulillah… Mereka memberiku hadiah berupa bunga hidup (tanaman) yang bisa kurawat dan menambah oksigen di kamar. Mereka juga memberiku ublik, coklat, dan buku. Sangat efektif dan bermanfaat untuk kehidupanku selanjutnya.

Namun, yang lebih “terukir” di hatiku adalah, ketika mereka memeluk dan menjadi “penopang” jiwaku yang hari itu “ringkih”. Tangisku pecah didekapan mereka. Aku merasakan haru yang luar biasa. Setelah 5,5 tahun :’) Aku tidak tahu apa yang akan kurasakan jika tidak ada mereka. Terima kasih Tuhan.. Terima kasih orangtua dan kakakku yang menemani perjalanan hidupku selama ini. Terima kasih “Rembulan” di jiwaku. Terima kasih mendalam untuk Desy, mbak Anzila, dan Via 🙂

Yang mereka lakukan telah memberiku inspirasi untuk juga mengajak teman-teman yang mau ngasih hadiah ke temen yang ujian dengan sesuatu yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, yuk kita kalau memberi hadiah ke temen bisa berupa tanaman hias hidup (seperti: bunga krisan, kaktus, mawar, dll sesuaikan dengan bunga kesukaan teman), coklat untuk mood boster saat revisian (mendukung kecakapan mengelola emosi dan ngasih nutrisi otak), terrarium, atau apapun yang sekiranya dibutuhkan-disukai (tapi pastikan itu ramah lingkungan yaa).
terima-kasih-via-desy-mbak-anzila

Coba deh!!! Semoga jadi moment ujian yang berkesan. Aamiiin
and… this is my last message, dear 🙂
stiker-20-okt^.^v

Malang, 27 Oktober 2016

18.00 WIB